Kesehatan Pernapasan

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK): Penyebab, Gejala, dan Perawatannya

Oct 19, 2026
Artikel ini telah ditinjau dan direview oleh dr. Robby Alfadli
 

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru heterogen yang ditandai oleh gejala respirasi kronis dan hambatan aliran udara yang persisten, akibat kelainan pada saluran napas dan/atau alveolus yang umumnya berkaitan dengan paparan partikel atau gas berbahaya. Kondisi ini umum terjadi pada perokok aktif dan pasif, tetapi bisa juga terjadi akibat berbagai penyebab lainnya. Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjutnya!


Image by Magnific

Paru-Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan Penyebabnya

Paru-paru obstruktif kronis (PPOK) adalah kondisi saat paru-paru mengalami peradangan dalam waktu yang lama. Kondisi medis yang termasuk ke dalam PPOK yaitu:

  1. Bronkitis kronis. Peradangan pada dinding saluran bronkus yang menyebabkan pembengkakan serta munculnya lendir, sehingga saluran pernapasan menjadi terhambat.

  2. Emfisema. Kerusakan pada alveolus yang merupakan kantong udara tempat terjadinya pertukaran udara oksigen dengan karbon dioksida di dalam paru-paru.

PPOK termasuk ke dalam penyakit progresif, yaitu penyakit yang akan memburuk seiring berjalannya waktu. Dalam kondisi yang cukup parah atau tanpa penanganan yang tepat, PPOK bahkan bisa menyebabkan terjadinya kematian.

Faktor Risiko Paru-Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

PPOK terjadi ketika saluran pernapasan maupun paru-paru mengalami kerusakan. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, tetapi ada beberapa orang dengan kondisi tertentu yang bisa memiliki risiko lebih tinggi, di antaranya:

  1. Perokok aktif dan pasif.

  2. Sering terpapar polusi udara.

  3. Terpapar zat kimia tertentu.

  4. Memiliki keluarga sedarah dengan riwayat PPOK.

  5. Memiliki riwayat kesehatan tertentu terkait pernapasan, seperti TBC dan asma.

  6. Memiliki kelainan genetik.

Gejala Paru-Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

Seseorang yang mengalami PPOK akan menunjukkan beberapa gejala, di antaranya yaitu:

  1. Sesak napas khususnya saat sedang beraktivitas.

  2. Mengeluarkan suara saat bernapas atau mengi.

  3. Penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas.

  4. Batuk yang tidak kunjung sembuh.

  5. Bengkak pada area tungkai kaki.

Diagnosis Paru-Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

Diagnosis PPOK perlu dipertimbangkan berdasarkan gejala, riwayat paparan, dan pemeriksaan klinis, kemudian dikonfirmasi dengan spirometri. Pada konteks klinis yang sesuai, rasio FEV1/FVC pascabronkodilator <0,70 menunjukkan adanya hambatan aliran udara persisten yang mendukung diagnosis PPOK.

  1. Tes fungsi paru-paru untuk mengukur volume udara yang dapat dihirup dan dihembuskan oleh pasien, serta mengetahui apakah oksigen yang dikirimkan oleh paru-paru ke darah dalam jumlah yang cukup.

  2. Pada pasien tertentu, terutama bila dicurigai defisiensi alpha-1-antitrypsin, dokter dapat melakukan pemeriksaan kadar atau fungsi alpha-1 antitrypsin. Melalui tes ini juga bisa diketahui apakah gejala yang dirasakan adalah akibat dari PPOK atau penyakit lainnya.

  3. Pengecekan kadar karbon dioksida di dalam darah .

  4. Pemindaian serta rontgen untuk mengetahui kondisi paru-paru serta mendeteksi adanya penyakit lainnya.

Pengobatan Paru-Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

Sampai saat ini PPOK belum bisa disembuhkan secara penuh. Pengobatan PPOK dilakukan untuk mengurangi gejala yang dirasakan serta menghambat penyakit ini agar tidak semakin parah, sehingga pasien tetap bisa beraktivitas dengan normal. Pengobatan yang dilakukan yaitu dengan:

  1. Obat-obatan. Obat yang digunakan disesuaikan dengan kondisi medis pasien dan bertujuan untuk melancarkan saluran pernapasan pasien.

  2. Terapi oksigen. Terapi oksigen diberikan pada pasien PPOK tertentu yang mengalami hipoksemia dan memenuhi kriteria terapi oksigen berdasarkan hasil evaluasi dokter.

  3. Tindakan operasi. Tindakan operasi umumnya dilakukan pada pasien dengan kondisi emfisema yang cukup serius dan pengobatan lain tidak lagi efektif untuk mengatasinya.

Perawatan Paru-Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

Selain pengobatan dari dokter, pasien PPOK juga bisa melakukan perawatan di rumah sesuai dengan anjuran dokter. Beberapa perawatan yang bisa dilakukan yaitu:

  1. Berhenti merokok bagi perokok aktif.

  2. Sebisa mungkin hindari paparan asap rokok maupun polusi udara lainnya.

  3. Tetap aktif secara fisik sesuai kemampuan dan anjuran tenaga kesehatan. Pada pasien tertentu, rehabilitasi paru dapat membantu meningkatkan kapasitas aktivitas, mengurangi sesak, dan memperbaiki kualitas hidup.

  4. Berusaha untuk mengelola emosi dan menghindari stres.

Pada pasien PPOK tertentu, obat inhalasi dapat diberikan menggunakan alat uap nebulizer sesuai indikasi dan resep dokter. Efek terapi bergantung pada jenis obat yang digunakan, sedangkan nebulizer berfungsi sebagai perangkat untuk menghantarkan obat dalam bentuk aerosol ke saluran pernapasan. Jika Anda membutuhkan nebulizer, Anda bisa menggunakan Kompresor Nebulizer NE-C810 yang dilengkapi dengan Virtual Valve Technology (V.V.T) yang meningkatkan efisiensi penggunaan obat serta terapi inhalasi selama melakukan terapi.
Artikel Sebelumnya
Kenapa Nebulizer Dipilih Sebagai Terapi Pernapasan?
Artikel Berikutnya
Video Populer
Tetap Terhubung
|Suka
Video Populer
Tetap Terhubung
|Suka