Nyeri leher dapat muncul kapan saja dan sering kali terjadi tanpa disadari. Kondisi ini tidak selalu berkaitan dengan aktivitas berat atau salah posisi tidur. Kebiasaan sehari-hari, seperti terlalu lama menunduk saat menggunakan ponsel, posisi duduk yang kurang tepat, maupun ketegangan otot juga dapat menjadi pemicunya.
Meski umumnya bersifat ringan, nyeri leher yang berlangsung terus-menerus atau disertai dengan keluhan lain sebaiknya tidak diabaikan. Karena itu, penting untuk mengetahui berbagai penyebab munculnya nyeri pada tengkuk leher agar dapat menentukan langkah penanganan yang tepat. Simak ulasannya di sini!

Nyeri yang muncul pada tengkuk leher dapat disebabkan oleh berbagai faktor, berikut beberapa di antaranya:
Posisi tubuh selama beraktivitas turut memengaruhi kondisi otot leher. Terlalu lama menundukkan kepala pada saat melihat ponsel, duduk membungkuk di depan komputer, atau tidur dalam posisi yang kurang nyaman dapat membuat otot leher terus menahan beban. Tekanan yang berlangsung dalam waktu lama dapat menyebabkan otot menjadi tegang dan akhirnya memunculkan nyeri pada tengkuk.
Kondisi serupa juga dapat terjadi akibat posisi leher yang kurang tepat selama tidur. Penggunaan bantal yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat membuat leher tidak berada pada posisi yang nyaman. Jika berlangsung berulang, ketegangan pada otot bagian belakang dapat menyebabkan tengkuk terasa pegal, kaku, atau nyeri, terutama ketika bangun tidur.
Pada sebagian kasus, nyeri pada tengkuk leher dapat menjadi tanda adanya kondisi yang lebih serius, salah satunya saraf terjepit. Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai radikulopati servikal, yaitu kondisi ketika akar saraf di tulang belakang leher mengalami iritasi atau tekanan. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri leher yang menjalar ke bahu, lengan, hingga tangan, dan dapat disertai kesemutan, atau mati rasa.
Osteoarthritis merupakan kondisi degeneratif yang menyebabkan perubahan pada tulang rawan dan struktur sendi secara bertahap. Kondisi ini dapat terjadi pada tulang belakang leher dan memengaruhi sendi faset, yaitu sendi kecil yang membantu menghubungkan serta menggerakkan tulang belakang.
Seiring berkembangnya osteoarthritis, perubahan pada bagian sendi dapat memicu peradangan dan pembengkakan jaringan di sekitarnya. Kondisi inilah yang dapat menyebabkan leher terasa kaku dan nyeri. Pada kasus tertentu, perubahan ini juga dapat mempersempit jaringan saraf sehingga menimbulkan nyeri yang menjalar ke bahu atau lengan.
Nyeri pada tengkuk leher juga dapat disebabkan oleh cedera whiplash. Kondisi ini terjadi ketika leher bergerak maju dan mundur secara tiba-tiba akibat benturan atau gerakan yang kuat. Whiplash paling sering terjadi saat kecelakaan lalu lintas, terutama ketika kepala dan leher mengalami hentakan secara mendadak.
Hentakan tersebut dapat menyebabkan otot dan jaringan di sekitar leher mengalami peregangan atau cedera. Akibatnya, leher dapat terasa nyeri, kaku, dan sulit digerakkan. Umumnya, keluhan ini bisa berlangsung dalam waktu singkat maupun menetap, tergantung pada tingkat keparahan cedera dan penanganan yang diberikan.
Nyeri leher yang tidak kunjung hilang kerap menimbulkan pertanyaan, apakah kondisi tersebut berkaitan dengan tekanan darah tinggi (hipertensi). Padahal, sakit leher bukan merupakan gejala khas hipertensi. Karena itu, munculnya nyeri leher perlu dilihat bersama gejala lain yang menyertainya, terutama sakit kepala, pusing, atau keluhan lain yang tidak biasa.
Meski tidak secara langsung menjadi tanda hipertensi, nyeri pada area leher tetap dapat muncul bersamaan dengan keluhan yang berkaitan dengan tekanan darah tinggi. Di sisi lain, sakit leher juga lebih sering disebabkan oleh ketegangan otot, postur tubuh yang kurang baik, atau masalah pada area leher.
Berikut merupakan beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengurangi nyeri yang muncul pada tengkuk leher:
Lakukan gerakan leher secara perlahan dan dalam batas nyaman, seperti menoleh ke kanan dan kiri atau menundukkan serta menengadahkan kepala. Hentikan jika nyeri bertambah.
Gunakan kompres hangat atau dingin pada area yang nyeri untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman.
Oleskan salep atau balsam yang mengandung bahan aktif mentol dan metil salisilat karena memberikan sensasi dingin dan membuat otot menjadi relaks.
Lakukan pijatan yang dapat membantu meringankan otot leher yang menegang serta menghilangkan rasa sakit.
Perbaiki posisi tidur dengan cara pakai bantal yang tidak terlalu tinggi supaya posisi kepala tidak terlalu terangkat.
Biasakan duduk dan berdiri dalam posisi tubuh yang tegap agar dapat menjaga kesehatan sendi dan tulang.
Minum obat pereda nyeri seperti paracetamol untuk membantu meringankan rasa nyeri pada tengkuk leher.
Lalu, kapan sebaiknya ke dokter? Anda bisa melakukan pemeriksaan ke dokter jika mengalami beberapa penyebab yang disebutkan di atas. Selain itu, pemeriksaan juga bisa dilakukan apabila nyeri yang dirasakan tidak kunjung membaik dalam waktu 3 sampai 7 hari setelah istirahat dan meminum obat pereda rasa nyeri.
Bahkan, bila disertai dengan kaku leher parah, mual atau muntah, sakit kepala hebat, hingga demam tinggi, sebaiknya langsung lakukan pemeriksaan ke dokter. Jika nyerinya belum terlalu parah, Anda bisa menghilangkannya dengan produk Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dari OMRON.

TENS adalah teknologi yang telah terbukti secara klinis dapat membantu meredakan nyeri pada bagian otot dan sendi. Terapi TENS bahkan telah banyak digunakan oleh tenaga kesehatan profesional seperti ahli fisioterapi dan spesialis nyeri. Klik di sini untuk mengetahui lebih lengkap tentang TENS!
|
Artikel Sebelumnya Kenali Perbedaan Osteoporosis dan Osteoarthritis |
Artikel Berikutnya |