Artikel ini telah ditinjau dan disetujui oleh dr. Rudi Margono
Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia masih menjadi perhatian, mengingat jumlah kasus yang terus ditemukan di berbagai daerah. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga Mei 2026 tercatat sebanyak 39.672 kasus DBD di Indonesia, dengan 105 orang dilaporkan meninggal dunia.
Tingginya angka tersebut berkaitan dengan penyebaran virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini dapat membawa virus setelah menggigit orang yang terinfeksi, kemudian menularkannya kepada orang lain melalui gigitan berikutnya.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala demam berdarah sejak dini agar penanganan dapat dilakukan dengan tepat. Lantas, apa saja ciri-ciri atau gejala DBD yang perlu diwaspadai? Yuk, simak penjelasannya dalam artikel berikut!

Berikut merupakan beberapa gejala atau ciri-ciri demam berdarah yang perlu untuk diwaspadai:
Gejala DBD umumnya ditandai dengan demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba. Demam ini biasanya berlangsung selama 2–7 hari, dengan suhu tubuh dapat mencapai 39–40°C. Berbeda dengan demam biasa, demam akibat infeksi virus dengue cenderung sulit mereda meski penderita telah mengonsumsi obat penurun panas.
Nyeri dan pegal pada tubuh dapat menjadi gejala DBD yang cukup mengganggu. Penderita biasanya merasakan nyeri di beberapa bagian tubuh, seperti bahu, lutut, dan punggung, yang terkadang disertai sakit kepala berat. Rasa nyeri yang intens tersebut kerap disebut breakbone fever atau “demam tulang retak”.
Sebanyak 50–80% penderita DBD dapat mengalami ruam kemerahan pada kulit. Ruam DBD ini sekilas terlihat menyerupai petechiae atau bintik-bintik kecil karena perdarahan di bawah kulit, bahkan terkadang mirip dengan ruam pada penyakit campak. Biasanya, ruam ini muncul di beberapa bagian tubuh, seperti kaki, lengan, dada, leher, hingga wajah, dengan bentuk dan tingkat kemerahan yang dapat berbeda pada setiap penderita.
Saat mengalami DBD, penderita dapat mengalami mual dan muntah yang sering kali disalahartikan sebagai keracunan makanan atau sakit maag. Padahal, kondisi ini dapat menyebabkan kehilangan cairan yang memicu dehidrasi dan berisiko memperburuk DBD. Selain itu, mual dan muntah juga dapat menurunkan nafsu makan sehingga asupan nutrisi selama masa pemulihan menjadi kurang optimal.
Penderita dengue dapat terlihat lemas atau pucat. Tangan dan kaki yang terasa dingin, terutama jika disertai kelemahan berat atau kondisi yang semakin memburuk. Perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda gangguan sirkulasi.
Perdarahan ringan seperti gusi berdarah, mimisan, atau tubuh yang mudah memar dapat menjadi tanda-tanda DBD. Pada penderita wanita, DBD bahkan menyebabkan menstruasi menjadi lebih banyak atau lebih lama dari biasanya. Jika gejala tersebut muncul, segera lakukan pemeriksaan medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Agar penanganan DBD tidak terlambat, penting untuk mengenali setiap fase penyakitnya. Berikut di antaranya:
Fase Demam: Biasanya terjadi sekitar hari ke-1 hingga ke-3 dan ditandai dengan demam tinggi. Pada tahap awal ini, jumlah trombosit sering kali belum menurun sehingga gejalanya kerap dianggap sebagai demam biasa.
Fase Kritis: Biasanya terjadi sekitar hari ke-4 hingga ke-6 dan demam mulai turun. Namun, pada tahap ini, terjadi kebocoran plasma darah yang mengakibatkan Dengue Shock Syndrome. Selain itu, muncul tanda lain seperti muntah terus-menerus, sakit perut, dan perdarahan. Kondisi ini harus segera ditangani dalam waktu 24-48 jam agar tidak berakibat fatal.
Fase Pemulihan: Biasanya terjadi sekitar hari ke-7 hingga ke-10 dan biasanya cairan tubuh perlahan mulai kembali normal. Tidak hanya itu, nafsu makan penderita pun mulai membaik, tapi masih terlihat kelelahan. Selain itu, trombosit juga mulai naik, namun risiko perdarahan masih tetap ada.
Sebagai langkah pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD), maka dapat melakukan beberapa tips berikut:
Istirahat total dan hindari aktivitas fisik berat supaya tubuh tetap bisa fokus dalam melawan infeksi dengue.
Perbanyak minum air putih setidaknya 8-10 gelas air setiap hari atau sesuai anjuran dokter. Selain air putih, bisa juga meminum cairan elektrolit jika disarankan dokter.
Konsumsi makanan bergizi dan lembut agar lebih mudah dicerna oleh pencernaan. Beberapa makanannya seperti sup, bubur, tahu kukus, kentang tumbuk, dan lainnya.
Pantau suhu tubuh minimal dua kali sehari menggunakan termometer untuk mengetahui kondisi tubuh.
Meminum obat penurun demam seperti paracetamol dan hindari ibuprofen atau aspirin karena dapat menyebabkan perdarahan.
Lalu, kapan sebaiknya penderita DBD memeriksakan diri ke dokter? Segera lakukan pemeriksaan jika mengalami sakit perut hebat, muntah terus-menerus, mimisan, atau tanda perdarahan lainnya, terutama jika kondisi semakin memburuk. Untuk memudahkan memantau suhu tubuh secara rutin di rumah, Anda bisa menggunakan termometer digital OMRON yang mudah digunakan dan memberikan hasil pengukuran yang akurat.

Penggunaan termometer digital secara berkala dapat membantu Anda mengetahui perubahan suhu tubuh dan menentukan kapan perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer OMRON.
|
Artikel Sebelumnya Mau Diet Berhasil? Stop Musuhan dengan Timbangan |
Artikel Berikutnya Berat Badan Sulit Turun Meski Sudah Diet, Kenapa Ya? |