Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah secara konsisten berada pada angka 140/90 mmHg atau lebih. Jumlah penderita penyakit ini tidaklah sedikit, tetapi sering kali tidak disadari karena tanpa gejala, sehingga sering disebut sebagai “silent killer”. Hipertensi baru terdeteksi ketika penderitanya melakukan pemeriksaan tekanan darah, seperti pada program Cek Kesehatan Gratis yang diadakan oleh negara.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 12 Juni 2025, dari 8,2 juta peserta yang mengikuti program tersebut, menunjukkan bahwa 1 dari 5 peserta mengalami hipertensi. Angka tersebut bukanlah angka yang kecil dan perlu perhatian khusus, terlebih lagi tekanan darah yang tidak dikontrol dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti penyakit stroke.

Hipertensi akan memberikan tekanan pada arteri serta berbagai organ lain dalam tubuh. Jika tidak dikendalikan segera, maka semakin lama dinding arteri akan melemah akibat tekanan dari aliran darah. Akibatnya bisa menimbulkan berbagai komplikasi, seperti stroke, baik stroke hemoragik maupun iskemik.
Stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah pecah sehingga darah merembes ke jaringan otak atau ruang di sekitar otak. Perdarahan ini dapat merusak jaringan otak dan meningkatkan tekanan di dalam tengkorak. Kondisi ini menyebabkan suplai nutrisi dan oksigen ke jaringan otak terganggu dan bisa menyebabkan kerusakan jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah ke bagian otak terhambat akibat penyumbatan pembuluh darah, misalnya oleh trombus atau embolus. Hipertensi meningkatkan risiko stroke iskemik melalui kerusakan pembuluh darah dan percepatan proses aterosklerosis. Semakin besar penyumbatan, maka aliran darah ke sel-sel jaringan otak akan semakin sedikit, sehingga berisiko menyebabkan kerusakan. Sebagian besar kasus stroke merupakan stroke iskemik dibandingkan dengan stroke hemoragik.
Hipertensi memang sering tidak menimbulkan gejala, tetapi berbeda dengan stroke. Waspadai gejala yang muncul mendadak, seperti:
wajah mencong,
kelemahan atau baal pada satu sisi tubuh,
bicara pelo atau sulit memahami pembicaraan,
gangguan penglihatan,
kehilangan keseimbangan atau koordinasi, dan
sakit kepala sangat hebat (terutama pada stroke hemoragik).
Ketika mengalami beberapa gejala di atas, maka Anda disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Terutama jika Anda sudah memiliki riwayat hipertensi sebelumnya.
Stroke merupakan kondisi gawat darurat. Jika muncul gejala yang mengarah pada stroke, segera hubungi layanan gawat darurat atau bawa pasien ke IGD tanpa menunggu gejala membaik. Terapi reperfusi tertentu dapat diberikan pada pasien yang memenuhi kriteria dalam jendela waktu tertentu, sehingga penanganan sedini mungkin sangat penting.
Dalam penanganan stroke, ada yang dinamakan golden period, yaitu sekitar 3-4,5 jam pertama setelah gejala muncul. Penanganan yang tepat pada masa ini akan mengurangi risiko kerusakan pada otak serta meningkatkan potensi pemulihan total pada pasien. Jadi pastikan untuk segera ke dokter dalam rentang waktu tersebut jika mulai merasakan gejala stroke.
Pencegahan stroke pada penderita hipertensi terutama dilakukan dengan mengendalikan tekanan darah sesuai target yang ditetapkan dokter. Upaya ini mencakup:
pemeriksaan berkala,
kepatuhan mengonsumsi obat sesuai resep,
pola makan sehat rendah garam,
aktivitas fisik teratur,
menjaga berat badan, dan
menghindari rokok.
Anda juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter jika tekanan darah stabil berada pada angka yang tinggi. Semakin cepat Anda memeriksakan diri, maka penanganan hipertensi bisa dilakukan lebih cepat, sehingga risiko stroke akan berkurang.

Bagi Anda yang memiliki riwayat hipertensi, pemantauan kesehatan jantung secara rutin menjadi langkah penting. OMRON Complete hadir sebagai perangkat tensimeter digital yang memungkinkan pengukuran tekanan darah sekaligus perekaman elektrokardiogram (EKG) dalam satu alat. Melalui aplikasi OMRON connect, Anda dapat memantau hasil pemeriksaan serta mendeteksi indikasi gangguan irama jantung, seperti fibrilasi atrium (AFib), takikardia, dan bradikardia. Hasil pemeriksaan dapat disimpan dan dibagikan kepada dokter sebagai informasi pendukung untuk evaluasi kesehatan jantung lebih lanjut.
|
Artikel Sebelumnya Sering Begadang? Waspada Hipertensi Menyerang! |
Artikel Berikutnya Benarkah Diabetes Menyebabkan Hipertensi, atau Sebaliknya? |