Artikel ini telah ditinjau dan disetujui oleh dr. Robby Alfadli
Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, merupakan kondisi ketika tekanan darah secara konsisten berada di atas batas yang ditetapkan dalam pedoman klinis. Berdasarkan definisi WHO, hipertensi pada orang dewasa pada umumnya ditandai dengan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg yang terkonfirmasi melalui pengukuran berulang. Sayangnya, hipertensi sering kali tidak memberikan tanda apa-apa hingga bertahun-tahun lamanya. Tanpa disadari penderita, organ-organ tubuhnya telah mengalami kerusakan atau penurunan fungsi. Untuk itu, mari cari tahu tentang hipertensi sekunder serta cara mengenali gejala-gejala awalnya dalam artikel berikut.

Secondary hypertension (hipertensi sekunder) merupakan tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh hal yang telah diketahui. Hal tersebut bisa berupa kondisi medis lain, konsumsi obat-obatan tertentu, atau karena zat lain yang digunakan. Karena itu, mengobati hal lain yang bertanggung jawab atas hipertensi sekunder dapat mengembalikan tekanan darah ke ambang normal.
Hipertensi sekunder secara historis diperkirakan mencakup sekitar 5–10% kasus hipertensi. Namun, penelitian yang menggunakan strategi skrining lebih sistematis menunjukkan bahwa prevalensinya dapat lebih tinggi pada populasi tertentu, terutama pada pasien dengan hipertensi onset muda atau hipertensi resisten.
Dr. Randall Zusman, direktur Divisi Hipertensi di Harvard-affiliated Massachusetts General Hospital, mengungkap ada 4 kelompok utama orang yang mungkin menderita hipertensi sekunder, yaitu:
Orang yang punya hipertensi sebelum usia 30 tahun
Orang yang tiba-tiba mengalami hipertensi setelah usia 70 tahun
Orang yang mendadak hipertensi setelah hipertensinya terkontrol dengan baik selama beberapa tahun terakhir
Orang dengan hipertensi yang tetap tidak terkontrol meskipun telah menggunakan tiga obat antihipertensi dari kelas yang sesuai pada dosis maksimal atau yang dapat ditoleransi, atau membutuhkan empat obat atau lebih untuk mencapai kontrol tekanan darah
Melansir dari laman Healthline, penyebab paling umum dari hipertensi sekunder adalah penyakit parenkim ginjal (renal parenchymal disease), yaitu pembentukan jaringan parut atau kerusakan pada jaringan ginjal, dan ginjal kronis stadium lanjut.
Penyakit ginjal kronis dapat menyebabkan atau memperburuk hipertensi, sementara hipertensi juga merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap progresivitas penyakit ginjal.
Gangguan hormon: seperti aldosteronisme primer dan sindrom Cushing.
Kelainan pembuluh darah: penyempitan arteri sejak bawaan lahir dapat merupakan penyebab utama hipertensi sekunder pada remaja dan anak-anak.
Tumor: tumor pada kelenjar adrenal, yang terletak di atas ginjal, dapat menyebabkan hipertensi karena mempengaruhi sistem endokrin (yang meregulasi hormon) dan menghambat aliran darah.
Kondisi medis lainnya: apnea tidur obstruktif, preeklampsia (tekanan darah tinggi selama kehamilan), penggunaan beberapa obat untuk mengobati penyakit lain.
Zat-zat lain: termasuk alkohol, suplemen herbal, hingga zat-zat terlarang.
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, hipertensi sekunder biasanya tidak menimbulkan gejala, sebagaimana pada penderita hipertensi primer. Adapun kemungkinan gejala yang mungkin dialami penderita hipertensi sekunder akan berasal dari kondisi lain yang mendasarinya. Contohnya adalah:
Stenosis arteri renalis sering kali tidak menimbulkan gejala spesifik. Kondisi ini dapat dicurigai pada pasien dengan hipertensi yang muncul pada usia tidak biasa, hipertensi berat atau resisten, atau penurunan fungsi ginjal yang tidak dapat dijelaskan.
Keringat berlebihan, tangan gemetar, merasa cemas atau gugup, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, detak jantung berdetak cepat, jantung berdebar-debar, kelelahan, suara serak, kenaikan berat badan kelemahan otot, mati rasa di tangan, hingga kesulitan berkonsentrasi. Kondisi lain yang mendasarinya adalah hipertiroidisme (kelebihan hormon tiroid).
Sering terbangun di malam hari, jeda pernapasan saat tidur, mendengkur saat tidur, berkeringat di malam hari, kelelahan di siang hari, perubahan suasana hati, kesulitan berkonsentrasi, yang disebabkan oleh apnea tidur obstruktif.
Kelelahan, rasa haus yang berlebihan, buang air kecil lebih sering dari biasanya, sakit kepala, kram atau kelemahan otot, penglihatan kabur, yang disebabkan oleh aldosteronisme primer.
Mengingat hipertensi sekunder terjadi karena kondisi lain yang telah ada sebelumnya, metode pengobatannya tentu perlu beriringan dengan penanganan kondisi lain yang menyertainya. Karena itu, pengobatan hipertensi dapat berupa:
Pemberian obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi
Pembedahan atau operasi untuk hipertensi sekunder yang disebabkan oleh tumor
Perubahan gaya hidup, yang dibarengi dengan metode pengobatan lainnya
Demikianlah ulasan mengenai hipertensi sekunder, mulai dari pengertian, kelompok orang yang berisiko, penyakit atau kondisi lain yang menjadi penyebabnya, hingga metode pengobatan yang disesuaikan dengan penyebab penyertanya.
Hipertensi sekunder terjadi akibat kondisi medis, obat, atau zat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah. Tidak semua penyebab hipertensi sekunder dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup. Namun, pola makan sehat, aktivitas fisik, menjaga berat badan, tidak merokok, dan membatasi alkohol tetap penting untuk membantu menjaga kesehatan kardiovaskular dan mengendalikan tekanan darah.

Untuk menguatkan upaya pencegahan hipertensi sekunder, Anda juga dapat rutin melakukan pengecekan tekanan darah menggunakan OMRON EZ Super Lite | HEM-7090. Tensimeter digital ini telah dilengkapi dengan teknologi IntelliSense®, yaitu teknologi eksklusif OMRON untuk kenyamanan dan akurasi di rumah, indikator detak jantung tidak teratur, dan indikator gerakan tubuh.
|
Artikel Sebelumnya Bagaimana Hipertensi Menyebabkan Penyakit Kardiovaskular? |
Artikel Berikutnya Sering Begadang? Waspada Hipertensi Menyerang! |