Artikel ini telah ditinjau dan disetujui oleh dr. Rudi Margono
Diabetes dan tekanan darah tinggi (hipertensi) memiliki faktor risiko yang serupa. Menurut American Diabetes Association, 2 dari 3 penderita diabetes juga melaporkan memiliki hipertensi atau mengonsumsi obat untuk mengendalikan tekanan darah. Lantas, apakah diabetes menyebabkan hipertensi? Atau justru sebaliknya—hipertensi yang menyebabkan diabetes? Yuk, cari tahu jawabannya dalam kelanjutan artikel berikut!

Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan dalam darah berada pada angka 140/90 mmHg atau lebih secara konsisten berdasarkan pengukuran yang tepat dan terkonfirmasi sesuai kebutuhan. Pada sebagian orang, kondisi ini tidak memberikan gejala apa-apa, sehingga baru dapat diketahui ketika penderitanya memeriksakan diri ke tenaga kesehatan atau memantau tekanan darah menggunakan alat pengukur tekanan darah di rumah.
Padahal, jika tidak dikelola dengan baik, hipertensi dapat menyebabkan kerusakan pada arteri jantung, otak, ginjal, dan mata secara signifikan.
Diabetes adalah penyakit jangka panjang yang ditandai dengan kadar gula (glukosa) yang tinggi dalam darah. Kondisi ini bermula dengan organ pankreas yang hanya mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang terlalu sedikit atau tubuh yang tidak dapat merespons produksi insulin dengan baik.
Padahal, insulin merupakan hormon alami dalam organ pankreas yang berfungsi mengatur glukosa dalam darah. Ketidakmampuan insulin untuk bekerja dengan semestinya itulah yang mengakibatkan glukosa dalam darah melonjak secara tiba-tiba.
Diabetes terbagi dalam beberapa tipe, namun ada 2 yang paling umum, yaitu:
Diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh sama sekali tidak memproduksi insulin atau hanya memproduksi insulin dalam jumlah yang sangat sedikit. Tipe ini biasanya dimulai pada masa kanak-kanak, sehingga umum disebut sebagai “diabetes remaja”. Orang yang memiliki diabetes tipe 1 memerlukan suntikan insulin secara teratur di sepanjang hidupnya.
Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif (resistensi insulin) atau ketika pankreas tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup. Orang dengan diabetes tipe 2 biasanya perlu mengonsumsi obat-obatan, mengubah pola makan dan memperbanyak aktivitas fisik, serta mungkin memerlukan suntikan insulin.
Ketika seseorang mengalami masalah insulin, glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel-selnya untuk menghasilkan energi. Sebagai akibatnya, glukosa justru menumpuk dalam aliran darah dan memicu kerusakan luas pada jaringan dan organ, termasuk yang berperan penting dalam menjaga tekanan darah tetap sehat. Kerusakan pada pembuluh darah nantinya dapat menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Data American Diabetes Association, yang mencatat bahwa 2 dari 3 orang dengan diabetes juga melaporkan memiliki hipertensi, dapat menunjukkan bahwa orang dengan diabetes memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak.
Mengutip Medical News Today, sebuah penelitian tahun 2018 menemukan bahwa orang dengan tekanan darah tinggi biasanya mempunyai resistensi insulin dan juga risiko lebih tinggi mengembangkan diabetes, jika dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki darah tinggi.
Dengan demikian, hipertensi tidak secara langsung menyebabkan diabetes. Namun, hipertensi dapat meningkatkan risiko mengembangkan diabetes apabila seseorang sudah memiliki hipertensi.
Penelitian yang sama juga menemukan bahwa hipertensi dan diabetes tipe 2 memiliki faktor risiko yang serupa, di antaranya:
Kelebihan berat badan atau obesitas
Gaya hidup yang kurang aktif
Pola makan yang tidak sehat
Mengalami stres kronis
Kebiasaan tidur yang buruk
Merokok
Terpapar polusi udara
Faktor genetik dan lingkungan
Faktor risiko tambahan untuk hipertensi juga meliputi:
Pola makan tinggi natrium
Kadar kalium yang rendah
Konsumsi alkohol yang tinggi
Untuk mencegah dan mengurangi risiko diabetes dan hipertensi, Anda dapat melakukan beberapa hal berikut:
Menjaga berat badan ideal
Menerapkan pola makan sehat, yaitu DASH, seperti banyak mengonsumsi buah dan sayur, makanan tinggi serat, serta membatasi asupan natrium, gula tambahan, dan lemak jenuh
Membatasi atau berhenti mengonsumsi alkohol
Menghindari atau berhenti merokok
Selain beberapa poin di atas, Anda bisa juga melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin dan mandiri di rumah menggunakan OMRON IQ. Alat ukur tekanan darah ini dilengkapi dengan deteksi fibrilasi atrium (AFib) dalam satu kali pengukuran tekanan darah, serta IntelliWrap™ untuk hasil akurat dan nyaman di rumah.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa diabetes tidak secara langsung menyebabkan hipertensi, begitu juga sebaliknya. Akan tetapi, keduanya meningkatkan risiko untuk mengembangkan penyakit lainnya, terutama jika disertai dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes maupun hipertensi.
|
Artikel Sebelumnya Bisakah Mencegah Stroke pada Penderita Hipertensi? |
Artikel Berikutnya |