Kesehatan Pernapasan

Benarkah Kebiasaan Tidur di Lantai Memicu Paru-Paru Basah?

Oct 01, 2026

Artikel ini telah ditinjau dan disetujui oleh dr. Robby Alfadli
 

“Jangan tiduran di lantai, nanti paru-paru basah.”

Pernahkah Anda mendengar peringatan seperti itu? Sejak lama, banyak orang tua yang meyakini bahwa salah satu faktor yang meningkatkan risiko paru-paru basah adalah kebiasaan tertentu, seperti tidur di lantai. Namun, bagaimanakah faktanya?

Mengenal Paru-Paru Basah

Pneumonia atau yang sering disebut ‘paru-paru basah’ adalah infeksi akut pada paru yang menyebabkan peradangan pada jaringan paru. Pneumonia paling sering disebabkan oleh virus atau bakteri, meskipun pada kondisi tertentu dapat disebabkan oleh jamur. Kondisi tersebut akan menyebabkan kantong udara di dalam paru-paru mengeluarkan cairan atau nanah jika disebabkan oleh infeksi bakteri.

Gejala Paru-Paru Basah

Gejala yang dirasakan penderita paru-paru basah pada umumnya yaitu:

  1. Demam atau menggigil, meskipun tidak selalu muncul pada semua pasien.

  2. Sesak napas.

  3. Tubuh lemas dan merasa lelah.

  4. Batuk kering atau berdahak.

  5. Mual dan muntah.

  6. Nyeri dada terutama saat batuk.

Gejala yang dirasakan oleh penderita paru-paru basah bisa berbeda tergantung pada tingkat keparahan kondisinya. Paru-paru basah dengan gejala ringan umumnya tidak sampai menyebabkan penderitanya membutuhkan alat bantu oksigen untuk membantunya bernapas. Namun, pada gejala yang lebih berat, penderitanya bisa saja sampai kehilangan kesadaran. Hal ini bisa disebabkan penurunan kadar oksigen secara drastis dalam darah yang menyebabkan tubuh kekurangan suplai oksigen akibat infeksi paru-paru yang cukup parah.

Benarkah Tidur di Lantai Menyebabkan Paru-Paru Basah?

Ini adalah salah satu hal yang banyak diyakini oleh masyarakat. Alasannya, karena suhu dingin serta debu pada lantai dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Tidur di lantai sendiri bukan penyebab langsung pneumonia. Pneumonia terutama disebabkan oleh infeksi mikroorganisme. Namun, beberapa faktor lingkungan seperti paparan asap rokok, polusi udara, dan kondisi hunian tertentu dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.

Meskipun begitu, bukan berarti kebiasaan tidur di lantai tidak mengandung risiko yang disebabkan oleh paparan debu pada lantai, seperti:

  1. Bersin

  2. Batuk

  3. Sesak napas, misalnya pada penderita asma yang terpicu oleh debu

  4. Ruam pada kulit

Semakin sensitif Anda pada debu maupun suhu dingin, maka risikonya akan semakin besar sehingga kebiasaan ini perlu dihindari.

Faktor Risiko Paru-Paru Basah

Kebiasaan tidur di lantai memang tidak menyebabkan paru-paru basah. Namun, ada beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena paru-paru basah, di antaranya yaitu:

  1. Usia lanjut.

  2. Penyakit kronis seperti PPOK dan diabetes.

  3. Gangguan sistem imun.

  4. Kebiasaan merokok.

  5. Konsumsi alkohol berlebihan.

  6. Kondisi tertentu yang meningkatkan risiko aspirasi.

Diagnosis Paru-Paru Basah

Diagnosis pneumonia dilakukan berdasarkan keluhan, pemeriksaan fisik, dan bila diperlukan pemeriksaan penunjang seperti foto toraks. Pemeriksaan darah, pemeriksaan mikrobiologi, atau CT scan dapat dilakukan pada kondisi tertentu sesuai dengan tingkat keparahan dan pertimbangan dokter.

Selain itu, dokter juga akan melakukan pengecekan riwayat kondisi medis pasien. Hal ini akan membantu meningkatkan keakuratan hasil diagnosis serta mengetahui penyebab infeksi paru-paru yang dialami pasien.

Pengobatan dan Perawatan Paru-Paru Basah

Pengobatan paru-paru basah disesuaikan dengan penyebab serta kondisi medis pasien. Tanpa pengobatan yang tepat, penyakit ini juga bisa menyebabkan berbagai komplikasi, antara lain:

  1. Penyebaran infeksi yang dapat merusak organ lain di sekitarnya. 

  2. Kerusakan parah pada organ paru-paru.

  3. Kurangnya suplai oksigen dalam tubuh akibat paru-paru mengalami gangguan fungsi.

Berbagai dampak tersebut bisa mempengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan, sehingga pengobatan yang tepat dengan arahan dokter sangatlah penting. Pada pasien pneumonia yang mengalami bronkospasme atau memiliki kondisi saluran napas tertentu, dokter dapat mempertimbangkan obat inhalasi melalui nebulizer uap sesuai indikasi. Namun, nebulizer bukan terapi untuk mengatasi infeksi pneumonia itu sendiri.

Anda bisa menggunakan OMRON NE-U300, nebulizer dengan teknologi mesh yang membuatnya senyap saat digunakan, sehingga akan membuat Anda merasa lebih nyaman. Desainnya juga sangat sederhana dan ringkas, sehingga mudah dibawa dan digunakan kapan saja.

Video Populer
Tetap Terhubung
|Suka
Video Populer
Tetap Terhubung
|Suka