Artikel ini telah direview dan disetujui oleh tim medis kami
Banyak orang yang menginginkan berat badan ideal. Selain karena demi penampilan, berat badan yang ideal juga dapat meminimalisir risiko penyakit seperti diabetes, kolesterol, dan hipertensi. Untuk mencapai berat badan ideal, banyak orang yang mengacu pada BMI atau Body Mass Index. Mengapa demikian? Berikut ini adalah penjelasan lebih lengkap mengenai BMI dan hubungannya dengan berat badan ideal.
BMI (Body Mass Index) atau IMT (Indeks Massa Tubuh) adalah angka yang didapatkan dari perbandingan tinggi (dalam meter kuadrat, m2) dan berat badan (dalam kilogram) untuk menilai status gizi seseorang.
Dilansir dari WHO, angka BMI dibedakan menjadi beberapa kategori, yaitu:
Kekurangan berat badan: 18,5 kg/m² atau kurang
Normal: 18,5-25 kg/m²
Kelebihan berat badan: 25-30 kg/m²
Obesitas: 30 kg/m² atau lebih
Sebagai contoh cara menghitung BMI, seseorang memiliki berat badan 80 kg dengan tinggi badan 160 cm (1,6 m). Jika dihitung, orang tersebut memiliki BMI 31,2 kg/m² (80 : [1,6 x 1,6] = 31,2). Artinya, menurut angka BMI, orang tersebut termasuk dalam kategori obesitas.
BMI bisa menjadi indikasi seseorang perlu mencapai berat badan yang lebih sehat. Misalnya, orang dengan BMI tinggi disarankan mengurangi konsumsi kalori dan meningkatkan aktivitas fisik untuk menurunkan angka BMI, sehingga risiko komplikasi kesehatan berkurang.
Meskipun BMI bisa membantu tenaga medis mengetahui kondisi tubuh dasar seseorang, kalkulator BMI sebaiknya tidak dijadikan sebagai acuan untuk menilai kondisi kesehatan seseorang. Penyebabnya karena ada berbagai faktor yang tidak masuk ke dalam perhitungan BMI. Inilah beberapa faktor yang dimaksud.
Kalkulator BMI ditemukan oleh ilmuwan Belgia abad ke-19 dan awalnya ditujukan untuk mayoritas populasi Eropa. Jadi, ketika dipakai untuk populasi Asia, Afrika, atau kelompok etnis lainnya, hasilnya bisa berbeda. Misalnya, angka BMI yang dianggap berlebih di Amerika bisa saja termasuk masih normal di Indonesia. Penyebabnya karena ada perbedaan karakteristik dan kondisi genetik antara orang Amerika dan orang Indonesia.
Kalkulator BMI hanya menghitung berat badan dan tinggi badan, sementara berat badan bisa dipengaruhi dari massa otot, massa tulang, dan lemak. Oleh karena itu, orang dengan massa otot lebih tinggi tapi lemak rendah—seperti bodybuilder atau atlet—bisa menunjukkan angka BMI tinggi. Namun, bukan berarti mereka dalam kategori kelebihan berat badan atau obesitas.
Memiliki angka BMI ideal bukan menjadi jaminan bebas dari penyakit. Begitu pula sebaliknya, angka BMI tinggi bukan berarti tidak sehat. Penyebabnya karena BMI tidak bisa mendeteksi adanya beberapa kondisi kesehatan tertentu seperti kolesterol tinggi, diabetes, tekanan darah, dan lain sebagainya.
Angka BMI dapat memberikan gambaran umum tentang komposisi tubuh, tetapi tidak bisa mencerminkan gaya hidup seseorang secara menyeluruh. Padahal, kesehatan tidak hanya bergantung pada berat dan tinggi badan saja. Seseorang dengan angka BMI ideal belum tentu menjalani pola hidup sehat—mungkin saja mereka jarang berolahraga, mempunyai kebiasaan merokok, atau sering mengonsumsi makanan cepat saji. Sebaliknya, orang dengan BMI tinggi bisa saja memiliki gaya hidup yang aktif, pola makanan seimbang, dan metabolisme yang baik.
Pengukuran seperti lingkar pinggang (waist circumference) bisa menjadi alternatif lain untuk menilai kondisi tubuh Anda. Sebab, ukuran pinggang yang besar—lebih dari 100 cm untuk pria dan 90 cm untuk wanita—bisa meningkatkan risiko penyakit seperti jantung dan diabetes, meskipun angka BMI seseorang masih tergolong normal.
Artikel Sebelumnya 5 Tips Menjaga Berat Badan Ideal |
Artikel Berikutnya Makan Sedikit tapi Berat Badan Naik, Kenapa ya? |